Siti seorang gadis lajang. Ia sangat merindukan jodoh. Apalagi usianya
sudah memasuki kepala tiga, dan teman-teman seangkatannya hampir semua
telah menikah. Ia tak putus berusaha dan berdoa, memohon kepada Tuhan
agar dipertemukan dengan pemuda tambatan hati. Namun, doa dan usahanya
tak juga membawa hasil. Sampai suatu kali ia berkenalan dengan seorang
pemuda di sebuah mal. Keduanya saling tertarik, lalu pacaran. Tiga
bulan kemudian mereka menikah.
Siti sebetulnya sadar kalau
keputusannya itu berisiko. Ia belum begitu kenal pemuda itu. Orangtua,
saudara, dan teman-temannya juga sudah mengingatkannya. Namun, suara
hati dan semua nasihat itu seolah terbungkam dengan keinginannya untuk
segera menikah. Siti pun naik ke pelaminan. Awalnya semuanya berjalan
lancar. Hingga enam bulan kemudian rumah tangganya berantakan. Siti pun
hanya bisa menyesali keputusannya.
Hal serupa dialami oleh bangsa Israel. Mereka menginginkan seorang
raja. Alasannya karena bangsa-bangsa lain dipimpin oleh raja (ayat 5).
Samuel telah mengingatkan mereka akan risiko hadirnya seorang raja di
tengah mereka (ayat 11-18). Akan tetapi, mereka tetap ngotot. Akhirnya,
Tuhan membiarkan mereka mempunyai raja (ayat 22). Dan sejarah mencatat,
bahwa dari situlah awal kehancuran bangsa Israel. Saul sebagai raja
pertama gagal total. Setelah Salomo, bangsa itu pecah. Bahkan jauh
kemudian, mereka dibuang ke negeri Babel.
Maka, berhati-hatilah dengan keinginan. Apa yang sekarang kita
idam-idamkan, belum tentu pada masa depan menjadi berkat. Bisa saja
malah mendatangkan laknat.
TUHAN, JANGAN BERIKAN YANG AKU INGINKAN
TETAPI BERIKANLAH YANG TERBAIK BAGIKU
Source: http://www.renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2009-04-9 |