Thursday, 2026-04-02, 7:44 PM
Main
Registration
Login
MUSIC4SOUL.CO.CC
Welcome Guest | RSS
Site menu
Catalog categories
My articles [4]
Christian life [19]
All about Christianity
Christian Music [3]
All about Christian Music
Christian News [1]
Berita terbaru yang prihal kekristenan
Entertainment News [0]
Berita berita entertain selain musik
Our poll
Rate my site
Total of answers: 67
Tag Board
200
Main » Articles » Christian life

Penyamun Vs Pelayan
Bacaan :
Yoh 2:13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.
Yoh 2:14 Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.
Yoh 2:15 Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
Yoh 2:16 Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."

Mat 21:12. Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati
Mat 21:13 dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."


Pada saat merenungkan tentang Yesus “marah” kepada para pedagang di bait Allah (Yoh 2:13-25). Para pedagang kambing, domba, lembu dan merpati serta para penukar uang disebutNya “penyamun” (Mat21:12). Bukankah mereka sebenarnya melayani para jemaat yang membutuhkan korban persembahan ataupun menukarkan mata uangnya dengan mata uang Yahudi untuk persembahan. Lalu mengapakah mereka disebut “Penyamun” ????

Perbedaannya amatlah tipis dan terselubung, semata hanyalah “motivasi” yang membedakan antara seorang “Pelayan” dan “Penyamun”, dimana pelayanan mereka adalah didasarkan atas motivasi kepentingan pribadi semata sehingga disebutNya “ penyamun “, bukannya “pelayan” Hal ini membuat kita harus termenung melakukan introspeksi pada diri kita masing-masing. Apakah ada kepentingan diri sendiri yang terselubung sedemikian rupa sehingga menjadikan kita “Penyamun“ dan bukannya “ Pelayan” dimataNya. Sehingga pada waktu hari terakhir dimana banyak orang akan berseru kepada Jesus : Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Lalu pada waktu itulah Jesus akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!\" (bdk Matius 7:22-23).

Pada suatu ketika, seorang pemimpin perusahaan meminta bawahannya untuk mewakili dan bertindak untuk dan atas nama perusahaan melakukan perundingan dagang dengan mitranya. Si bawahan sewaktu berunding melihat ada kesempatan untuk keuntungan dirinya sendiri yaitu dengan melaksanakan transaksi secara diam-diam atas namanya sendiri, dan keuntungan besar menantinya. Kalau anda menjadi pemimpin perusahaan, kira-kira apakah yang akan anda lakukan ??? Bukankah seharusnya perusahaan yang mendapatkan keuntungan, bukankah anda selaku Pemimpin perusahaan yang seharusnya menuai hasil kesuksesan negosiasi dari suruhan anda tersebut ??

Rasul Yohannes mengatakan bahwa : “ Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil “ (Yoh 3:30). Sehingga dalam melayani Tuhan, adalah sesuatu yang patut kita pertanyakan dan kaji kembali apabila dengan pelayanan kita, nama kita yang semakin besar, kita jadi semakin terkenal dielu-elukan dan dipuji banyak orang dan nama Tuhan nyaris sirna tenggelam dibalik kebesaran nama kita yang tampil sebagai sosok yang hebat. Seringkali orang-orang yang melayani Tuhan tergelincir tanpa disadarinya, “mencuri” kemuliaan yang bukan menjadi haknya tetapi hak Yang Dilayani – (i.c Tuhan).

Benarkah pelayanan kita selama ini telah bersih dari kepentingan-kepentingan pribadi seperti mencari kepuasan, popularitas, kekuasaan, kegembiraan, pahala, dan lain-lain hal yang bersumber pada ke-akuan (ego)?? Benarkah selama ini yang kita lakukan adalah semata demi kemuliaanNya belaka tanpa memperdulikan segala kepentingan diri dan semata hanya sebagai tanda cinta yang kepadaNya ataukah mengharapkan imbalan / pahala daripadaNya????

Seringkali tanpa disadari, seorang pelayan yang mulanya mempunyai motivasi yang tulus untuk melayani Tuhan, didalam perjalanan waktu tergelincir dengan mementingkan kepentingan-kepentingan pribadinya demi sesuatu yang diyakininya demi Tuhan namun sebenarnya demi dirinya sendiri, demi rasa puasnya, demi harga dirinya, demi kebahagiaannya, demi kekuasaannya, demi nafsu dan egonya semata dan lama-lama nafsu ingin dilayanilah yang lebih menonjol daripada melayani. Namun pelayan yang begini biasanya tidak bertahan lama manakala suatu saat target yang dicarinya ternyata tidak tercapai.

Pernah saya berjumpa dengan seorang ibu yang mengatakan : “ aduh, rasanya bahagia sekali lho perasaan saya dapat melayani orang-orang miskin dan terlantar.” Bahagia tidak dilarang namun kalau motivasinya membahagiakan diri sendiri maka pelayanan itu akan menjadi sia-sia. Saya membayangkan seandainya suatu saat Yesus dating kembali di dunia ini dan membawakan homili di hadapan umat lalau Ia berkata : terima kasih ya, waktu aku lapar kalian memberi makan, waktu aku haus kalian memberi minum, waktu aku telanjang kalian memberi aku baju. Ada berapa banyak orang yang akan angkat tangan atau minimal angkat dada dan mengatakan : “ benar Tuhan, itu kan saya, waktu kemarin juga bulan lalu ……………….. dst. Apakah itu sesuai dengan konteks yang tertulis dalam Injil Matius 25 :35-40, renungkanlah dan bacalah sendiri.

Seorang Nabi besar dari Kisah Perjanjian Lama, Elia mengatakan bahwa (1 Raj 19:10): “ aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, Allah semesta alam “ ( Zelo zelatus sum pro domino deo et exercituum ). Segala suatu yang dilakukannya semata dilakukannya bagi Tuhan, bukan bagi kepentingan dirinya sendiri. Lihatlah pula ketaatan yang ditunjukkan oleh sang Bunda Gereja, ketaatan seorang hamba sejati yang patut direnungkan dan diteladani. Maria tidak pernah banyak bertanya inilah ciri ketaatan seorang hamba yang sejati.

Kalau anda salah ngak salah diomeli tetap diam ngak protes, benarpun ngak pernah dipuji tapi dikritik, kepuasan-kepuasan diri lenyap sudah, merasa tidak dihargai lagi dan tidak dibutuhkan oleh Gereja, dihina dan direndahkan sesama. Namun dalam situasi ini apabila anda tetap berjuang untuk setia melayani Dia agar namaNya semakin dipermuliakan, walaupun dengan tertatih-tatih, jatuh dan bangun, maka berbahagialah anda karena berarti anda bukan “PENYAMUN” tetapi minimal berjuang sebagai “pelayan”. Semoga Allah Yang Maha Kuasa melimpahkan rahmat dan berkatNya kepada setiap orang yang bergelut dalam perjuangannya untuk melayaniNya demi kemuliaan Namanya semata. Selamat Melayani Tuhan


Source: http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Renungan&table=isi&id=587&next=450
Category: Christian life | Added by: music4soul (2009-04-16) | Author: Lee
Views: 1239 | Comments: 4 | Rating: 0.0/0


Total comments: 4
4 Hunt  
0
ya... kadang renungan ini bukan untuk orang yang baru melayani tp justru org yang sudah lama sekali melayani. ya sekedar sharing, aq pernah mengalami hal ini,krn sudah terlalu lama melayani tanpa disadari aq sudah jd "penyamun" d rmh Tuhan. tp praise The Lord Tuhan ingetin motivasi yg bener kyk gmn.hehehehe.. He is the Best One.
GBU tongue

3 irene  
0
hmmmm.... Good.
Pelayan itu melayani tuannya... Melayani dengan sepenuh hati, melayani tanpa embel2.

2 blitz  
0
ayo isi dong komennya

1 Martin  
0
hai kawan ayo isi komennya disini wink


Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]
Login form
Search


Untuk mensupport website ini kami harap anda dapat mengklik iklan dibawah ini

Adsense Indonesia












Site friends
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

| Copyright MyCorp © 2026 | |