Bacaan : Yoh 2:13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Yoh 2:14 Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Yoh 2:15 Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Yoh 2:16 Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."
Mat 21:12. Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati Mat 21:13 dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
Pada saat merenungkan tentang Yesus “marah” kepada para pedagang di bait Allah
(Yoh 2:13-25). Para pedagang kambing, domba, lembu dan merpati serta
para penukar uang disebutNya “penyamun” (Mat21:12). Bukankah mereka
sebenarnya melayani para jemaat yang membutuhkan korban persembahan
ataupun menukarkan mata uangnya dengan mata uang Yahudi untuk
persembahan. Lalu mengapakah mereka disebut “Penyamun” ????
Perbedaannya amatlah tipis dan terselubung, semata hanyalah
“motivasi” yang membedakan antara seorang “Pelayan” dan “Penyamun”,
dimana pelayanan mereka adalah didasarkan atas motivasi kepentingan
pribadi semata sehingga disebutNya “ penyamun “, bukannya “pelayan” Hal
ini membuat kita harus termenung melakukan introspeksi pada diri kita
masing-masing. Apakah ada kepentingan diri sendiri yang terselubung
sedemikian rupa sehingga menjadikan kita “Penyamun“ dan bukannya “
Pelayan” dimataNya. Sehingga pada waktu hari terakhir dimana banyak
orang akan berseru kepada Jesus : Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat
demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak
mujizat demi nama-Mu juga? Lalu pada waktu itulah Jesus akan berterus
terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!\" (bdk Matius
7:22-23).
Pada suatu ketika, seorang pemimpin perusahaan meminta bawahannya
untuk mewakili dan bertindak untuk dan atas nama perusahaan melakukan
perundingan dagang dengan mitranya. Si bawahan sewaktu berunding
melihat ada kesempatan untuk keuntungan dirinya sendiri yaitu dengan
melaksanakan transaksi secara diam-diam atas namanya sendiri, dan
keuntungan besar menantinya. Kalau anda menjadi pemimpin perusahaan,
kira-kira apakah yang akan anda lakukan ??? Bukankah seharusnya
perusahaan yang mendapatkan keuntungan, bukankah anda selaku Pemimpin
perusahaan yang seharusnya menuai hasil kesuksesan negosiasi dari
suruhan anda tersebut ??
Rasul Yohannes mengatakan bahwa : “ Ia harus makin besar, tetapi
aku harus makin kecil “ (Yoh 3:30). Sehingga dalam melayani Tuhan,
adalah sesuatu yang patut kita pertanyakan dan kaji kembali apabila
dengan pelayanan kita, nama kita yang semakin besar, kita jadi semakin
terkenal dielu-elukan dan dipuji banyak orang dan nama Tuhan nyaris
sirna tenggelam dibalik kebesaran nama kita yang tampil sebagai sosok
yang hebat. Seringkali orang-orang yang melayani Tuhan tergelincir
tanpa disadarinya, “mencuri” kemuliaan yang bukan menjadi haknya tetapi
hak Yang Dilayani – (i.c Tuhan).
Benarkah pelayanan kita selama ini telah bersih dari
kepentingan-kepentingan pribadi seperti mencari kepuasan, popularitas,
kekuasaan, kegembiraan, pahala, dan lain-lain hal yang bersumber pada
ke-akuan (ego)?? Benarkah selama ini yang kita lakukan adalah semata
demi kemuliaanNya belaka tanpa memperdulikan segala kepentingan diri
dan semata hanya sebagai tanda cinta yang kepadaNya ataukah
mengharapkan imbalan / pahala daripadaNya????
Seringkali tanpa disadari, seorang pelayan yang mulanya mempunyai
motivasi yang tulus untuk melayani Tuhan, didalam perjalanan waktu
tergelincir dengan mementingkan kepentingan-kepentingan pribadinya demi
sesuatu yang diyakininya demi Tuhan namun sebenarnya demi dirinya
sendiri, demi rasa puasnya, demi harga dirinya, demi kebahagiaannya,
demi kekuasaannya, demi nafsu dan egonya semata dan lama-lama nafsu
ingin dilayanilah yang lebih menonjol daripada melayani. Namun pelayan
yang begini biasanya tidak bertahan lama manakala suatu saat target
yang dicarinya ternyata tidak tercapai.
Pernah saya berjumpa dengan seorang ibu yang mengatakan : “ aduh,
rasanya bahagia sekali lho perasaan saya dapat melayani orang-orang
miskin dan terlantar.” Bahagia tidak dilarang namun kalau motivasinya
membahagiakan diri sendiri maka pelayanan itu akan menjadi sia-sia.
Saya membayangkan seandainya suatu saat Yesus dating kembali di dunia
ini dan membawakan homili di hadapan umat lalau Ia berkata : terima
kasih ya, waktu aku lapar kalian memberi makan, waktu aku haus kalian
memberi minum, waktu aku telanjang kalian memberi aku baju. Ada berapa
banyak orang yang akan angkat tangan atau minimal angkat dada dan
mengatakan : “ benar Tuhan, itu kan saya, waktu kemarin juga bulan lalu
……………….. dst. Apakah itu sesuai dengan konteks yang tertulis dalam
Injil Matius 25 :35-40, renungkanlah dan bacalah sendiri.
Seorang Nabi besar dari Kisah Perjanjian Lama, Elia mengatakan
bahwa (1 Raj 19:10): “ aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, Allah
semesta alam “ ( Zelo zelatus sum pro domino deo et exercituum ).
Segala suatu yang dilakukannya semata dilakukannya bagi Tuhan, bukan
bagi kepentingan dirinya sendiri. Lihatlah pula ketaatan yang
ditunjukkan oleh sang Bunda Gereja, ketaatan seorang hamba sejati yang
patut direnungkan dan diteladani. Maria tidak pernah banyak bertanya
inilah ciri ketaatan seorang hamba yang sejati.
Kalau anda salah ngak salah diomeli tetap diam ngak protes,
benarpun ngak pernah dipuji tapi dikritik, kepuasan-kepuasan diri
lenyap sudah, merasa tidak dihargai lagi dan tidak dibutuhkan oleh
Gereja, dihina dan direndahkan sesama. Namun dalam situasi ini apabila
anda tetap berjuang untuk setia melayani Dia agar namaNya semakin
dipermuliakan, walaupun dengan tertatih-tatih, jatuh dan bangun, maka
berbahagialah anda karena berarti anda bukan “PENYAMUN” tetapi minimal
berjuang sebagai “pelayan”. Semoga Allah Yang Maha Kuasa melimpahkan
rahmat dan berkatNya kepada setiap orang yang bergelut dalam
perjuangannya untuk melayaniNya demi kemuliaan Namanya semata. Selamat
Melayani Tuhan
ya... kadang renungan ini bukan untuk orang yang baru melayani tp justru org yang sudah lama sekali melayani. ya sekedar sharing, aq pernah mengalami hal ini,krn sudah terlalu lama melayani tanpa disadari aq sudah jd "penyamun" d rmh Tuhan. tp praise The Lord Tuhan ingetin motivasi yg bener kyk gmn.hehehehe.. He is the Best One. GBU