Asal Usul Lagu Malam kudus (Holy Night)
Malam
itu, langit di lereng pegunungan Alpen, Austria, terlihat cerah. Joseph
Mohr berjalan menulusuri jalan setapak, usai menonton pertunjukan drama
Natal yang dipentaskan oleh sekelompok aktor keliling. Menurut rencana,
sebenernya drama itu akan dipentaskan di gereja St. Nichoas, tetapi
karena organ gereja rusak akibat digigiti tikus, maka pentas itu
terpaksa dialihkan ke rumah salah satu jemaat.
Ketika sampai di puncak bukit, Mohr berhenti sejenak untuk melihat pemandangan di bawahnya. Dia begitu terpesona pada kerlap-kerlip lampu-lampu yang memancar dari dalam rumah penduduk. Suasananya sangat sunyi dan teduh. Hal itu membuat Mohr membayangkan suasana malam ketika Kristus lahir di kandang Betlehem. "Malam sunyi! Malam kudus!" Kata-kata itulah yang yang tiba-tiba terlintas di benak Mohr.
Sesampai di rumahnya, Mohr segera menyambar pena dan kertas untuk menuliskan baris-baris puisi yang meluap dari hatinya. Setelah itu, dia punya rencana untuk menyanyikan syair gubahannya itu pada malam kebaktian Natal di gerejanya. Keesokan harinya, dia segera menemui Franz Xaver Grüber, seorang guru desa dan pemain organ gereja. Pada hari itu juga, Grüber bisa merampungkan melodi untuk syair itu. Maka jadilah lagu "Malam Kudus" (Silent Night) yang beberapa abad kemudian menjadi "lagu wajib" pada setiap perayaann Natal.
Siapakah Joseph Mohr? Dia dilahirkan tahun 1792 di Steingasse, di sebuah perkampungan kumuh di Austria. Seorang
pastor merasa kasihan melihat Mohr kecil terpaksa mengamen di jalanan.
Imam Katolik itu lalu memungutnya dari jalanan dan menyekolahkan di
Salzburg. Di sana, selain belajar agama, Mohr juga
belajar bermain organ, biola dan gitar. Tahun 1818, Mohr ditempatkn
sebagai asisten pastor di gereja St. Nicholas.
Sesuai
dengan rencananya, pada malam Natal di tahun 1818, Mohr menyanyikan
lagu ciptaanya itu dengan iringan gitar Grüber (karena organ gereja
masih rusak). Lagu yang masih gres itu ternyata menyentuh hati jemaat yang datang beribadah.
Meski terbilang sukses, namun mereka tidak pernah punya niat untuk menyebarkan lagu itu ke luar desa. Seminggu
kemudian, Karl Maurachen, tukang servis organ kenamaan dari Zillerthal
datang untuk memperbaiki alat musik di gereja itu. Ketika
sudah beres, Grüber dipersilahkan mencoba memainkan organ itu. Pada
kesempatan itu, Grüber memainkan lagu yang baru diciptakan itu. Maurachen sangat terkesan mendengar lagu itu. Dia minta salinan komposisi lagu itu dan membawanya pulang.
Di
tangan Maurachen, lagu itu mulai menyebar dan menjadi lagu rakyat di
wilayah Tyrol. Lagu ini menjadi semakin populer ketika kuartet
Strasser,--empat wanita bersaudara-- , menyanyikan lagu ini berkeliling
di seluruh Austria. Tahun 1838, lagu ini sudah dikenal di Jerman
sebagai "lagu tidak jelas asal-usulnya. "
Di
Amerika, lagu ini diperkenalkan oleh Rainers, sebuah keluarga penyanyi
dari Tyrol dalam sebuah tur konser, tahun 1839. Seperempat abad
kemudian, Jane Campbell menterjemahkan syairnya ke dalam bahasa Inggris. Tahun 1980, Yayasan Musik Gereja (Yamuger) menterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Syairnya sebagai berikut: "Malam kudus, sunyi senyap. Dunia terlelap. Hanya dua berjaga terus. Ayah Bunda mesra dan kudus. Anak tidur tenang." [Harvest]
|